Selama ini kita tahu bahwa di Amerika Serikat, khususnya di kawasan Las Vegas, merupakan pusat judi terbesar di dunia. Bukan suatu hal yang salah memang apabila kita beranggapan seperti itu. Pasalnya, di negara berjuluk Paman Sam tersebut, Las Vegas merupakan surga yang menyajikan berbagai macam jenis permainan judi bagi para maniak judi dari seluruh penjuru dunia.
Namun tahukah anda bahwa pasar potensial perjudian terbesar itu justru berada di kawasan Asia? Terdengar aneh memang, tetapi hal tersebut bukan hanya isapan jempol belaka apabila menilik dari beberapa fakta berikut ini.
Pada November 2016, sebanyak 94 anggota sindikat judi yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara di ringkus oleh Kepolisian Daerah Jincheng, China. Sindikat judi tersebut bahkan memiliki pendapatan hingga sekitar 72 Miliar Dollar Amerika atau setara dengan 974 triliun rupiah. Sekitar 400 penjudi ilegal dari Myanmar dan Laos dibawa masuk ke China oleh para sindikat judi tersebut. Perputaran uang yang terjadi dalam transaksi judi yang mereka jalankan dapat mencapai lebih dari 978 triliun rupiah.
Pihak kepolisian mengatakan, sebenarnya sindikat tersebut sudah terlacak sejak tahun 2013 lalu ketika terjadi sebuah kasus pembunuhan yang korbannya adalah seorang penjudi sukses yang di rumahnya terdapat tumpukan uang hasil kegiatan judi nya. Dalam kasus lain, polisi juga pernah membebaskan delapan penjudi yang sebelumnya disekap oleh jaringan sindikat tersebut di Myanmar.
Sebulan sebelumnya, pada Oktober 2016, sekitar 13 pekerja kasino asal Korea Selatan dan sejumlah agen judi asal China juga berhasil ditangkap. Pada bulan yang sama, setidaknya 17 pegawai Kasino Crown Resorts ditangkap dan tiga di antaranya kemudian ditahan secara resmi karena terbukti melakukan tindak perjudian ilegal.
Mundur ketahun 2015, seorang wartawan asal Kanada bernama Declan Hill, melakukan sebuah liputan investigasi terhadap fenomena judi bola di seluruh dunia. Dalam investigasinya tersebut, ditemukan fakta bahwa transaksi judi bola terbesar di dunia justru berasal dari kawasan Asia. Apabila dipersempit lagi, pusatnya berada di sekitar Asia Tenggara dan China. Hill secara khusus bahkan menyebutkan kota-kota seperti Bangkok, Beijing, Singapura, Kuala Lumpur bahkan Jakarta sebagai pusat transaksi judi bola tersebut.
Menurut Hill, kekuatan mafia sepakbola Asia tidak bisa dianggap remeh. Dia menyebut cakupan mafia ini bukan hanya dikawasan asia saja. Para mafia yang sebagian besar terdiri dari bandar judi kelas kakap tersebut sudah mampu menguasai sebagian besar wilayah Eropa. Puncaknya adalah ketika kekuatan mafia judi Asia ini bahkan mampu menembus even akbar sekelas Piala Duia 2010 yang diselenggarakan di Afrika Selatan.
Lebih lanjut hasil investigasi yang dituangkannya kedalam sebuah buku berjudul The Fix Soccer and Organized Crime tersebut, Hill menjelaskan bahwa salah satu penyebab menjamurnya praktek judi bola adalah karena faktor kebiasaan. Menurut Hill kegemaran orang keturunan etnis tionghoa akan praktek perjudian menjadi faktor pendorong kegiatan judi bola ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Tanpa bermaksud mendiskreditkan satu etnis tertentu, Hill membandingkan kegiatan judi etnis tionghoa ini dengan kegemaran orang-orang barat akan minum minuman beralkohol. Menurutnya kedua hal tersebut sulit dihilangkan karena telah menjadi budaya turun temurun dari generasi ke generasi.
Dari temuan fakta dan hasil investigasi diatas bukan tidak mungkin dimasa yang akan datang, kawasan Asia bakal menjadi lumbung uang baik bagi para bandar maupun para maniak judi dari seluruh dunia, menggeser Las Vegas yang berada di Amerika Serikat.